Senin, 20 Mei 2013

CINCIN TITIPAN


CINCIN TITIPAN
Matahari senja memancarkan sinarnya, menenangkan hati siapa saja yang melihatnya, menyinari sekeliling taman,  menemani dua sahabat yang sedang bercanda gurau. Yah, aku dan Indah telah bersahabat sejak lama. Waktu itu, aku duduk berdua dengannya di taman. Indah senang sekali mengajakku ngobrol di taman. Kadang dia curhat masalah pribadinya. Hingga tanpa dia sadari air matanya menetes di pipinya. Aku berusaha menenangkannya.
Aku mengenal Indah sewaktu duduk di bangku SMA. Sejak saat itu, aku menjalin hubungan persahabatan dengannya. Aku mengenalnya sebagai orang yang pendiam dan cerdas. Aku sering berkonsultasi dengannya ketika mempunyai pekerjaan rumah yang tidak bisa kuselesaikan. Apalagi jika itu sudah menyangkut mata pelajaran Matematika. Yah, mata pelajaran yang paling mengganggu, menyusahkan sekaligus membosankan.
Waktu itu aku tidak masuk sekolah karena sedang mencari hippo time. Maklum saja, aku hanya mendapatkan jata libur sekali dalam seminggu. Lagi pula aku belum pernah alfa pada pertemuan sebelumnya. Yah, sekali-kali kita harus memanfaatkan jata ketidakhadiran yang disediakan oleh guru. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati secangkir kopi dan rokok di dalam kamar, tiba-tiba handphoneku berdering. Ternyata itu telepon dari Indah.
“Halo, lagi ngapain nih Angga?”
“Lagi istirahat di rumah.”
“Mengapa tidak pergi ke sekolah tadi?”
“Yah, bisa dibilang lagi malas saja.”
“Ke taman yuk, sebentar sore!”
“Oke. seperti biasa jam 4 yah!”


“Terserahlah. Kalau begitu sampai ketemu sebentar sore yah!” ucapnya sembari menutup pembicaraan.
Sore harinya aku datang ke taman itu. Rupa-rupanya Indah datang lebih awal. Raut wajahnya terlihat sedikit berbeda dari pertemuanku sebelumnya.
“Maaf yah aku terlambat! Sudah lama menunggu?” tanyaku.
“Yah, lumayan. Ngomong-ngomong, boleh bertanya satu hal?” tanya Indah kepadaku yang tampaknya sangat serius.
“Mengapa tidak? Apa sih yang tidak bisa buat kita?” jawabku dengan sedikit bercanda.
“Selama 3 tahun kita bersahabat, apa kamu tidak punya sedikitpun perasaan kepadaku? Selama ini, sebenarnya aku …” ucapnya dengan sedikit ragu dan malu kepadaku.
“Aku tidak mengerti sama sekali. Ayolah, berhenti bercanda seperti itu! Bagaimana kalau kita membicarakan hal lain?” tanyaku sambil mengalihkan pembicaraan.
“Aku tidak bercanda, Angga. Sebenarnya aku suka sama kamu. Aku tidak kuasa menahan perasaanku padamu.”
Perlahan aku menoleh ke wajahnya. Kulihat wajahnya sedikit tegang. Apakah dari awal dia mengajakku ke sini hanya untuk menyatakan perasaannya padaku? Aku semakin bingung mendengar apa yang dia ucapkan tadi. Perlahan kurangkul tangannya dan kutatap wajah yang penuh rasa malu.
“Jadi, itu tujuanmu mengajakku ke tempat ini?”
“Ya, aku minta maaf!”
“Tidak perlu meminta maaf padaku. Aku mengerti perasaanmu. Tapi, aku ragu menjawabnya sekarang. Ada banyak hal yang harus aku pertimbangkan. Tolong berikan sedikit waktu untuk berpikir” ucapku sambil menenangkan pikirannya.
Sepulang dari tempat itu, aku tidak berhenti memikirkan ucapannya tadi. Bagaimana tidak, orang yang selama ini aku anggap sahabat tiba-tiba mengutarakan perasaannya padaku. Jika aku menolaknya, pasti perasaannya semakin sedih. Tetapi, di sisi lain aku tidak mencintainya.

Keesokan harinya, aku memberanikan diri datang ke rumahnya. Kuajaknya ke taman yang kami datangi kemarin. Kali ini aku sedikit gugup jalan berdua dengannya. Kelihatannya dia lebih ceria dibandingkan kemarin. sesekali dia tersenyum kepadaku.
“Jadi, bagaimana dengan janjinya, Angga?”
“Memangnya aku pernah berjanji yah? Wah, aku lagi tidak punya uang nih. Bayarnya nanti saja.”
“Lalu, tujuanmu mengajakku ke sini bukan untuk itu? Jadi, maksud kamu apa?”
Raut wajahnya tiba-tiba berubah. Sepertinya dia tersinggung dengan ucapanku tadi. Aku bisa melihat kalau wanita ini benar-benar sangat mencintaiku. Matanya seolah-olah meminta agar aku menerima cintanya.
“Seharusnya kamu tidak perlu berteriak seperti itu. Aku senang melihatmu sebagai wanita yang pendiam.”
“Iya, aku minta maaf, Angga!”
“Indah sebenarnya saya senang bisa menjadi sahabatmu, tetapi … aku lebih senang jika kamu mengizinkanku menjadi pacarmu” ucapku sambil memegang tangannya.
Kelihatannya dia sangat gembira mendengar ucapanku. Spontan saja dia memelukku tanpa melontarkan sepatah kata pun. Ternyata benar apa yang dikatakan orang selama ini. Hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah ketika berada dipelukan wanita yang kita cintai. Aku benar-benar merasa nyaman di dekatnya.
Sejak saat itu, aku semakin sering mengajaknya jalan. Kadang aku mengajaknya nonton atau sekadar jalan-jalan berdua. Aku terlihat sangat mesra dengannya layaknya suami-istri. Kini aku benar-benar telah jatuh cinta padanya. Hari-hari kulalui dengan canda dan tawa.
Hingga pada suatu hari, ayahnya meninggal. Bukan hanya dia, akupun sangat kaget setelah dia meneleponku. Kudatangi rumahnya dan kulihat raut kesedihan yang sangat mendalam di wajah pacarku itu. Beliau adalah tulang punggung keluarga satu-satunya. Dan kini dia telah tiada meninggalkan istri dan tiga orang anaknya. Lantas siapa yang akan menjadi tulang punggung keluarga selanjutnya? Aku sangat cemas memikirkan musibah yang menimpa kekasihku ini.


Kecemasanku memuncak ketika Indah menyuruhku datang ke rumahnya. Ibunya ingin berbicara denganku. Aku sudah menduga kalau mereka pasti memikirkan hal yang sama denganku.
“Nak, kamu pasti mengerti dengan keadaan kami. Sekarang ayahnya telah tiada, dia masih punya dua orang adik. Kami butuh tulang punggung keluarga sekarang. Pagi tadi sepupunya yang bernama Adit berkunjung kemari. Dia ingin melamar Indah karena kwatir dengan keadaan keluarga kami. Kami belum memberinya jawaban karena ingin membicarakannya dahulu denganmu. Bagaimana menurutmu, Nak?”
“Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku sangat mencintai Indah, tapi aku tidak punya biaya untuk menikahinya. Aku bisa mengerti apa yang dia rasakan.”
“Apa itu artinya kamu tidak mau menikah denganku?” tanya Indah dengan raut wajah sedih.
“Seharusnya kamu mengerti perasaanku. Aku juga mempunyai dua orang adik sementara orang tuaku hanya seorang petani. Di mana aku bisa mendapatkan uang untuk menikahimu? Aku sadar pilihanku ini membuatmu kecewa, tetapi aku tidak punya pilihan lain.”
Terlihat raut wajah Indah amat sedih mendengar pengakuanku tadi. Air matanya menetes perlahan membasahi wajah kekasihku. Aku sadar telah menyakiti perasaannya. Sesuatu yang selama ini tidak pernah aku lakukan sebelumnya. Jadi, inikah takdir yang harus memisahkan kami? Perlahan aku menyadari bahwa cinta tak selamanya harus memiliki. Aku harus menghadapi kenyataan untuk melepaskan orang yang selama ini aku cintai. Terkadang hidup ini tidak adil bagi orang miskin yang terus merasakan penderitaan yang tiada berujung. Seandainya aku dilahirkan sebagai orang kaya, pasti aku akan menikahi pacarku itu dan hidup bersama dengannya.
“Aku tidak bisa menerima semua ini. Persahabatan hingga kasih sayang kita dikalahkan oleh takdir yang menimpa hubungan kita.”
“Apa kamu kira aku bisa menerima keadaan ini? Aku juga sama sepertimu. Akan tetapi, yang paling penting bagiku adalah bisa melihatmu bahagia, bahkan jika itu dengan orang lain. Begitulah caraku mencintaimu. Kalau kamu benar-benar mencintaikku, kumohon menikahlah dengannya demi aku!”

“Baiklah. Aku akan menerimanya, tetapi berjanjilah untuk tetap mencintaiku!” ucapnya sambil memelukku.
“Aku berjanji padamu.”
Mungkin ini pelukan terakhir yang aku rasakan darinya. Sebelum aku meninggalkannya, Indah memberiku sebuah cincin.
“Tolong ambil cincin ini! Kalau kamu telah menemukan penggantiku di hatimu, berikan cincin ini padanya. Tetapi, kalau kamu tak kunjung menemukannya, kumohon simpan cincin ini baik-baik. Siapa tahu takdir akan menyatukan kita kembali dan aku akan kembali padamu untuk mengambil cincin ini.”

Waktu pun terus berlalu. Tak terasa malam pernikahannya telah tiba. Aku sengaja tidak datang ke pesta perkawinannya. Aku lebih memilih untuk pergi ke taman yang sering kami datangi. Tempatnya sangat sunyi. Suara jengkrik bercampur dengan dinginnya malam di bawah naungan sinar bulan purnama. Air mataku menetes jika mengingat kisah yang pernah kujalani dengannya. Tempat ini menjadi saksi bisu hubunganku dengannya. Yang tersisa hanyalah sebuah cincin titipan darinya. Apakah cincin ini akan menjadi awal dari takdirku selanjutnya atau justru menjadi akhir dari kisah cintaku? Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Aku tidak tahu bagaimana mengakhiri kesedihanku ini. Apa aku hanya akan menunggu orang yang telah menjadi milik orang lain? Mungkin lebih baik kalau aku membiarkan takdirku menjawab semua ini.

Oleh :
Tekka Bancin
Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan
UIN Alauddin Makassar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar